blog ini di buat sebagai sarana berbagi pada sesama semoga artikel di blog ini bermanfaat

Kerusakan Ekologi dan Kerugian Ekonomi Akibat Serangan Hama



BAB ! Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Hama adalah organisme yang dianggap merugikan dan tak diinginkan dalam kegiatan sehari-hari manusia. Walaupun dapat digunakan untuk semua organisme, dalam praktik istilah ini paling sering dipakai hanya kepada hewan.

Suatu hewan juga dapat disebut hama jika menyebabkan kerusakan pada ekosistem alami atau menjadi agen penyebaran penyakit dalam habitat manusia. Contohnya adalah organisme yang menjadi vektor penyakit bagi manusia, seperti tikus dan lalat yang membawa berbagai wabah, atau nyamuk yang menjadi vektor malaria.

Dalam pertanian, hama adalah organisme pengganggu tanaman yang menimbulkan kerusakan secara fisik, dan ke dalamnya praktis adalah semua hewan yang menyebabkan kerugian dalam pertanian.

Dampak yang timbul akibat serangan hama dan penyakit menyebabkan kerugian baik terhadap nilai ekonomi produksi, pertumbuhan dan perkembangan tanaman, serta petani sebagai pelaku budiaya tanaman dengan kegagalan panen serta turunnya kwalitas dan kuantitas hasil panen. Hal ini disebabkan karena adanya persaingan perebutan unsur hara dan mineral, air, cahaya matahari,  proses fisiologi tanaman, pertumbuahan dan perkembangan tanaman yang terhambat akibat hama dan penyakit.

Selain berdampak pada tanama budidaya, serangan hama dan penyakit juga berdampak terhadap agroekosistem pertanian. Kerugian-kerugian tersebut disebabkan oleh adanya pemikiran oleh para pembudidaya tanaman untuk mengendalikan serta memusnahkan hama dan penyakit yang menyerangan tanaman. Pengendalian hama dan penyakit yang tidak sesuai dan tepat tersebut memberikan dampak kerugian yang lebih besar dari pada serangan hama dan penyakit itu sendiri terhadap tanaman.

Dengan penanggulangan hama dan penyakit terjadi hilangnya beberapa komponen-komponen agroekosistem yang berdampak akan terjadinya resistensi hama dan penyakit serta terjadinya returgenerasi. Dengan demikian perlu dilakukannya pengendalian hama dan penyakit yagn efektif dan efisien tanpa menimbulkan kerugiandan pencemaran lingkungan.

BAB 2 Pembahasan

1. Dampak Kerugian Akibat Seranga Hama pada Tanaman

Hama adalah sekelompok organisme pengganggu tanaman yagn dapat merusak tanaman budidaya baik secara fisik maupun fisiologisnya. Dampak kerugian akibat serangan hama tersebut adalah :

1. Gagal Panen

Akibat serangan hama yang paling ditakuti oleh para petani adalah terjadinya gagal panen. Kegagalan ini dikarenakan hama yang menyerang tanaman menjadikan tanaman sebagai bahan makanan, dan tempat tinggal bagi  mereka. Hama merusak tanaman dengan cara :

a.       Menghisap cairan tanaman

b.      Memotong batang tanaman baik yang muda maupun tua

c.       Memakan daun muda dan tua serta tunas-tunas muda pada tanaman

d.      Menghisap cairan dan memakan daging buah yang dapat menurunkan nilai ekonomis buah

e.       Memnbuat rumah atau sarang sebagai tempat tinggal dan berkembang biak baik pada batang, daun maupaun buah

2. Menurunnya Jumlah Produksi Tanaman

Dengan serangan yang dilakukan oleh hama pada tanaman maka tanaman tidak akan mampu menghasilkan produksi secara maksimal karena terjadinya pembatasan pertumbuhan akibat hama yang berada pada tanaman budidaya. Hal ini disebabkan karena proses fisiologi tanaman yang terganggu. Dengan daun dan batang serta tunas-tunas muda yang habis dimakan oleh hama secara tidak langsung tanaman tidak dapat melaukan proses fotosintesis untuk menghasilkan produksi dengan baik bahkan tidak dapat melakukan fotosentesis

3. Pertumbuhan Tanaman yang Terganggu

Serangan hama dapat meyebabkan pertumbuh tanaman menjadi terhambat dan bahkan tidak jarang mengalami stagnan pertumbuhan atau kerdil. Seperti serangan hama wereng pada tanaman padi yang dapat mengakibatkan tanaman padi menjadi kerdi dan tidak dapat berproduksi.

4. Menurunkan Nilai Ekonomis Hasil Produksi

Hama yang menyerang pada buah atau bagian tanaman yang memiliki nilai ekonomis akan menjadi menurun. Hal ini disebabkan, hama merusak bagian-bagian buah mupun daun tanaman. Dimana penurunan ini karena adanya bagian yang diseranga oleh hama mengalami cacat dan busuk serta mengandung ulat atau larva-larva hama. Sehingga produksi tidak dapat dikonsumsi.

5. Kerugian bagi para Petani

Dampak ini timbul karena tidak adanya produksi yang dihasilkan oleh tanaman atau gagal panen serta turunnya nilai ekonomis hasil produksi. Kerugian ini disebabkan tidak adanya pendapatan petani sedangkan biaya budidaya tanaman telah mereka keluarkan dalam jumlah yang sangat besar baik dari segi pengolahan lahan, benih, penanaman serta perawatan. Sedangkan hasilnya tidak meraka dapatkan. Hal ini semakain memperpuruk kondisi dan iklim pertanian di indonesia

6. Terjadinya Alih Fungsi Lahan

Alih fungsi lahan dilakukan oleh para petani dikarenakan pendapatan yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan pengeluaran yang dilakakan dalam usaha pertanian. Sehingga muncul pemikiran untuk mengalih fungsikan lahan pertanian yagn subur ke bidang usaha lain yang lebih menjanjikan keuntungan bagi mereka. Kondisi seperti ini semakin memperpuruk iklim pertanian di indonesia serta ketahan bahan pangan dalam negri.

7. Degradasi Agroekosistem

Degradasi ekosistem terjadi karena adanya usaha yng dilakukan oleh para petani dalam penaggulangan serangan hama yang tidak memikirikan dampak negatif terhadap lingkungan serta komponen-komponen penyusun agroekosistem. Pencemaran lingkungan tersebut kerena adanya zat-zat yang berbahaya akibat digunakannya pestisida. Dengan adanya penanggulanag serangan hama yang tida sesuai ini menyebabkan terjadinya degradasi ekosistem alami.

8. Munculnya resistensi dan returgensi hama

Dengan penanggulangan serangan  hama yang tidak sesuai akan menyebabkan resistensi atau kekebalan hama terhadap pestisida dan returgensi atau ledakan jumlah populasi hama yang berakibat pada damapa kerugian aygn lebih komplek dalam usaha budidaya tanaman itu sendiri.

2. Dampak Kerugian Akibat Serangan Penyakit pada Tanaman

Dampak serangan penyakit tanaman tidak separah dampak yang ditimbulkan akibat serangan oleh hama. Namun, dampak yang timbul juga tidak kalah hebatnya dengan serangan hama. Serangan penyakit pada tanaman budidaya lebih banyak mengarah pada proses fisiologinya. Karena menyerang sel dan jaringan tanaman. Adapun dampak kerugian yagn ditimbulkan yaitu :

1. Terganggunya Proses Fotosintesis tanaman

Hal ini terjadi karena terjadinya kerusakan pada bagain penampang daun akibat penyakit. Sehingga daun tidak dapat  meyerap sinar matahari secara maksimal. Penyakit yang menyerang daun antara lain :

a.              Karat daun oleh Cendawan Phachyrizi phakospora

b.              Penyakit bercak bakteri oleh Xanthomonas phaseoli

c.              Virus mozaik yang menyerang daun muda dan tunas muda

2. Terganggunya proses absorbsi unsur hara dan mineral tanah

dengan terganggunya proses penyerapan unsur hara dan mineral dalam tanah menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman menjadi terganggu. Penyakit ini biasanya menyerang bagian akar tanaman sperti penyakit jamur akar merah, putih pada tanaman karet. Penyekit ini juga menyebabkan tanaman menjadi layu dan mati akibat kekurangan asupan nutrisi.

3.  Kegagalan Panen

serangan penyakit tanaman juga mengakibatkan kegagalan panen. Seperti pada tanaman jeruk yang terserangan penyakit CCBD. Tanaman jeruk tidak akan menghasilkan buah akibat serangan penyakit ini. Selain itu, tanaman juga harus di musnahkan dan diganti dengan tanaman baru yagn merupakan kerugian besar bagi para  petani karena harus mengeluarkan biaya yang besar.

4.  Penurunan nilai ekonomis

Disebakan terjadinya kerusakan pada bagian-bagian hasil produksi tanaman. Seperti terjadi busuk, polong yang tida berisi pada tanaman legum dan lain-lain. Dengan dampak ini akan semakin mempersulit kehidupan para petani.

3. Permasalahan Penerapan PHT di Tingkat Petani

1. Kurang meratanya informasi mengenai ketahanan tanaman terhadap penyakit pada berbagai komoditas tanaman.  Apalagi masih banyak petani yang menggunakan benih tidak bersertifikat yang ketahanannya tidak diketahui.

2. Penelitian tentang ras patogen juga kurang di Indonesia padahal ras selalu berkaitan dengan ketahanan tanaman.  Tanaman yang tahan terhadap ras tertentu dapat menjadi sangat rentan terhadap ras lainnya.

3. Aspek budidaya, mulai perencanaan tanam, persiapan tanam, pengolahan tanah, pemupukan, penyiangan, dan pemeliharaan lain belum disengaja agar tingkat penyakit tertekan.  Selama ini,  aspek budidaya masih lebih ditujukan agar tanaman tumbuh subur, dan berproduksi tinggi, bukan menjadi lebih tahan.

4. Musuh alami yang dimaksud dalam prinsip PHT kurang berkaitan dengan musuh alami patogen tumbuhan. Permasalahannya adalah bahwa patogen yang renik juga mempunyai musuh alami yang renik pula, sehingga tidak mudah dipahami petani.  Demikian juga, ternyata belum banyak penelitian yang mengungkap tentang bahaya pestisida terhadap kelestarian musuh alami patogen tumbuhan.

5. Masalah lainnya adalah bahwa pengamatan mingguan tidak mudah diterapkan untuk penyakit tertentu yang menyebabkan kerusakan secara cepat dan keberadaannya sangat tergantung cuaca, seperti hawar daun kentang dll.  Untuk kasus demikian justru yang diperlukan adalah pengamatan terhadap cuaca untuk meramalkan kapan datangnya penyakit. Ternyata,  teknologi peramalan penyakit tumbuhan masih sangat minim dikembangkan di Indonesia.  Nampaknya teknologi peramalan nasib justru lebih berkembang di negara kita.

6. Untuk menjadikan petani sebagai ahli PHT dengan metode SLPHT ternyata terbentur pada kurangnya materi tentang aspek patogen, penyakit dan pengendaliannya terutama untuk komoditas tertentu.

4. Ambang ekonomi hama dan penyakit

Selain berdampak pada tanama budidaya, serangan hama dan penyakit juga berdampak terhadap agroekosistem pertanian. Kerugian-kerugian tersebut disebabkan oleh adanya pemikiran oleh para pembudidaya tanaman untuk mengendalikan serta memusnahkan hama dan penyakit yang menyerangan tanaman. Pengendalian hama dan penyakit yang tidak sesuai dan tepat tersebut memberikan dampak kerugian yang lebih besar dari pada serangan hama dan penyakit itu sendiri terhadap tanaman.

Dengan penanggulangan hama dan penyakit terjadi hilangnya beberapa komponen-komponen agroekosistem yang berdampak akan terjadinya resistensi hama dan penyakit serta terjadinya returgenerasi. Dengan demikian perlu dilakukannya pengendalian hama dan penyakit yagn efektif dan efisien tanpa menimbulkan kerugiandan pencemaran lingkungan.

Untuk melakukan tindakan pengendalin terhadap serangan hama dan penyakit harus dilakukan langkah-langlah penganalisaan terhadap dampak serangan hama dan penyakit tersebut. Kegiatan analisa ini bertujun untuk mengetahui batas ambang ekonomis serangan hama dan penyakit serta untuk mengetahui hal-hal yang harus dilakukan dalam penanggulangan hama dan penyakit.

Perlindungan tanaman merupakan bagian dari sistem budidaya tanaman yang bertujuan untuk membatasi kehilangan hasil akibat serangan OPT menjadi seminimal mungkin, sehingga diperoleh kwalitas dan kwantitas produksi yang baik. Sejak Pelita III pemerintah telah menetapkan sistem PHPT sebagai kebijakan dasar bagi setiapprogram perlindungan tanaman, dasar hukum PHPT tertera pada GBHN II dan GBHN IV serta Inpres 3/1986 yang kemudian lebih dimantapkan melalui UU No.12/1992 tentang sistem Budidaya Tanaman ( Anonimous, 1994).

 Konsep PHPT muncul dan berkembang sebagai koreksi terhadap kebijakan pengendalian hama secara konvensional, yang sangat utama dalam manggunakan pestisida. Kebijakan ini mengakibatkan penggunaan pestisida oleh petani yang tidak tepat dan berlebihan, dengan cara ini dapat meningkatkan biaya produksi dan mengakibatkan dampak samping yang merugikan terhadap lingkungan dan kesehatan petani itu sendiri maupun masyarakat secara luas.

PHPT merupakan suatu cara pendekatan atau cara berpikir tentang pengendalian OPT yang didasarkan pada dasar pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agro-ekosistem yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan. Sebagai sasaran teknologi PHPT adalah :

1)            produksi pertanian tetap tinggi,

2)            Penghasilan dan kesejahteraan petani meningkat,

3)            Populasi OPT dan kerusakan tanaman tetap pada aras secara ekonomi tidak merugikan dan

4)            Pengurangan resiko pencemaran Lingkungan akibat penggunaan pestisida yang berlebihan (Anonimous, 2004 ).

Tiga komponen komponen dasar yang harus dibina, yaitu : Petani,Komoditi dasil pertanian dan wilayah pengembangan dimana kegiatan pertanian berlangsung, disamping pembinaan terhadap petani diarahkan sehingga menghasilkan peningkatan produksi serta pendapatan petani.

Pengembangan komoditi hasil pertanian benar-benar berfungsi sebagai sektor yang menghasilkan bahan pangan, bahan ekspor dan bahan baku industri, sedangkan pembinaan terhadap wilayah pertanian ditujukan agar dapat menunjang pembangunan wilayah seutuhnya dan tidak terjadi ketimpangan antar wilayah ( Kusnadi, 1980).

Banyak persoalan yang dihadapi oleh petani baik yang berhubungan langsung dengan produksi dan permasalahan hasil pertanian maupun yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, selain merupakan uasaha bagi petani, pertanian sudah merupakan bagian dari kehidupannya sehingga tidak hanya aspek ekonomi saja tetapi aspek yang lainya juga merupakan peranan penting dalam tindakan-tindakan petani, dengan demikian dari segi ekonomi pertanian berhasil atau tidaknya produksi dan tingkat harga yang diterima oleh petani untuk hasil produksinya merupakan faktor yang sangat mempengaruhi perilaku dan kehidupan petani itu sendiri (Mubyarto, 1986).

PHT adalah upaya yang terencana dan terkoordinasi untuk melembagakan penerapan prinsip-prinsip PHT oleh petani dalam usaha taninya serta memasyarakatkan pengertian-pengertian PHT dikalangan masyarakat umum dalam rangka pembangunan pertanian berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. “Pengendalian Hama Terpadu (PHT) adalah upaya pengendalian populasi atau tingkat serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dengan menggunakan salah satu atau lebih dari berbagai teknik pengendalia yang dikembangkan dalam satu kesatuan, untuk mencegah timbulnya kerugian secara ekonomis dan kerusakan lingkungan hidup” (Anonimous, 1994)

1.            Menjamin kemantapan swasembada pangan.

2.            Menumbuhkan Kreativitas, dinamika dan kepemimpinan petani.

3.            Terselenggaranya dukungan yang kuat atas upaya para petani dalam menyebarluaskan penerapan PHT sehingga dapat tercipta pemabngunan pertanian yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.Pelaksanaan pengendalian hama dan penyakit melalui pengendalian hama terpadu (PHT) dengan cara memperhitungkan atau menganalisa sejauh mana organisme penyebab hama dan penyakit tersebut mengganggu tanaman budidya yang disebut dengan batas ambang ekonomis (Budianto.2002)Batas ambang ekonomis serangan hama dan penyakit perlu diidentifikasi sehingga perlakukan pengendalian hama dan penyakit pada tanaman tepat sasaran, tujuan dan tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan (Mubyar.1986).

Ambang ekonomis merupakan suatu tingkat atau batas toleransi serangan hama dan penyakit terhadap tanaman budidaya. Jika hama dan penyakit yang  terdapat pada areal budidaya tanaman berada dibawah ambang ekonomis maka tidak perlu dilakukan pengendalian hama dan penyakit tersebut. Sedangkan jika keberadaan hama dan penyakit pada areal pertanaman tersebut diatas ambang ekonomis maka perlu dilakukan pengendalian (Kusnadi.1980).

5. Batasan pengendalian hama dan penyakit

            Batas  pengendalian hama dan penyakit pada tanaman yaitu tingkatakan pengendalian yang dilakukan untuk meminimalisir atau menghilangkan serangan hama dan penyakit pada tanaman budidaya dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektifitas penanggulangan serta pengaruh penanggulangan hama dan penyakit tanaman terhadap lingkungan. Selain itu, batas pengendalian hama dan penyakit tanaman juga memperhatikan akibat-akibat yang akan muncul pada organisme-organisme penyebab hama dan penyakit seperti ledakan populasi hama dan penyakit, kekebalan hama dan penyakit serta munculnya hama dan penyakit baru pada areal budidaya.

            Jika pengandalian hama dan penyakit tanaman tidak melebihi batasan-batasan atau konsep pengendalian  hama dan penyakit maka ledakan populasi, kekebalan dan munculnya hama dan penyakit baru tidak akan terjadi. Namun, jika pengendalian yang dilakukan melebihi batasan pengendalian hama dan penyakit maka hal tersebut dapat terjadi pada agroekosistem pertanian.

Batasan-batasan perlakuan pengendalian hama penyakit tanaman yaitu :

1. Penakaran dosis pestisida atau biopestisida yang sesuai dengan rekomendasi yang dianjurkan. Pengendalian hama dan penyakit tanaman yang memperhatikan takaran atau jumlah konsentrasi pestisida atau biopestisida yang sesuai dengan rekomendasi yang diberikan merupakan perwujudan perlakuan pengendalian hama dan penyakit yang dibawah batasan-batasan pengendalian. Dengan perlakuan pengendalian yang demikian, maka tidak akan terjadi  ledakan populasi hama dan penyakit, serta tidak akan muncul hama dan penyakit yang kebal terhadap pestisida atau biopestisida. Jika penakaran dosis atau kosentrasi pestisida atau biopestisida melampaui batasan-batasan pengendalian hama dan penyakit tanaman atau tidak sesuai dengna rekomendasi akan terjadi ledakan populasi hama dan penyakit, serta kekebalan hama dan penyakit.

2. Melakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman dengan interval pengendalian yang panjang. Pemberian interval perlakuan tindakan pengendalian hama dan penyakit pada tanaman akan meminimalisir populasi predator-predator atau musuh-musuh alami hama dan penyakit tanaman yang musnah akibat pestisida. Interval pengendalian hama dan penyakit tanaman yang pendek akan menghilangkan atau mematikan musuh-musuh alami hama dan penyakit serta membunuh komponen-komponen penyusun agroekosistem yang menyebabkan munculnya hama dan penyakit baru pada tanaman budidaya. Hal ini dikarenakan organisme yang ada pada areal budidaya kehilangan bahan makanan sehingga melakukan adaptasi dengan bahan makanan yang baru yaitu tanaman yang kita budidayakan.

3. Menghilangkan atau mengurangi populasi tanaman-tanaman inang pada areal pertanaman. tanaman inang merupakan tanaman yang disukai oleh organisme penyebab hama dan penyakit tanaman. Tanaman inang juga sebagai tempat organisme penyebab hama dan penyakit hidup selain itu tanaman ini juga  menyediakan bahan makanan untuk organisme tersebut. Dengan pengurngan populasi tanaman inang pada areal pertanaman atau penggunaan tanaman inang sebagai pohon pelindung akan mengurangi terjadinya ledakan populasi hama dan penyakit tanaman.

4. Melakukan budidaya pertanian dengan sistem pertanian berkelanjutan untuk mempertahankan komponen-komponen penyusun agroekosistem seperti musuh alami. dengan perlakuan budidaya yang baik dengan sistem berkelanjutan akan mempertahankan komponen-komponen penyusun agroekosistem dan keanekragaman hayati sehingga siklus atau mata rantai organime tersebut tetap berjalan sesuai dengan siklu yang terjadi di alam bebas sebelum dilakukannya budidaya tanaman. Dengan pertanian yang berkelanjutan dengan menggunakan bahan-bahan organik dan penggunaan agen hayati dalam peningkatan produksi tanaman akan  menegah munculnya hama-hama baru pada areal budidaya tanaman karena musuh alami organisme penyebab hama dan penyakit tetap bertahan.

6. Pemberantasan Hama Dan Penyakit Tanaman

6.1 Secara Fisik Mekanik

Pembasmian hama dan penyakit secara fisik dapat dilakukan melalui:

a.       Pemangkasan lokal ; bagian tanaman yang terserang dipotong atau dipangkas, hasil pangkasan kemudian dikumpulkan di suatu tempat yang terbuka dan aman, lalu dilakukan pembakaran.

b.      Dicabut ; jika tanaman yang diserang dalam ukuran kecil (umur < 5 tahun atau bibit di persemaian) dan hampir semua bagian tanaman terserang maka tanaman tersebut di cabut sampai ke akarnya kemudian dikumpulkan di suatu tempat yang terbuka dan aman lalu di bakar.

c.       Ditebang ; jika intensitas serangan tinggi (hampir semua bagian tanaman diserang >70 % bagian tanaman diserang) atau sudah sangat parah dan tanaman berumur lebih dari 5 tahun, maka dilakukan tebangan D2 penyakit. Prosedur penebangan mengikuti prosedur tebangan yang sudah ada.

d.      Dalam kegiatan pemangkasan dan penebangan harus memperhatikan aspek keselamatan kerja dengan mengacu pada prosedur kerja Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang sudah ada.

e.       Penghalang isolasi adalah daya upaya yang dijalankan untuk mencegah penyebaran hama dan penyakit tanaman berdasarkan peraturan perundang-undangan

f.       Pemberian abu kayu pada serangan rayap

g.      Perlakuan panas

6.2 Pembasmian hama dan penyakit secara mekanik dapat dilakukan melalui:

1. Pengambilan menggunakan tangan. Dapat dilakukan pada jenis hama ulat dan belalang, dengan intensitas serangan hama dalam skala kecil.

2.  Penangkapan bersama-sama oleh banyak orang (gropyokan-Jawa) pada hama belalang.

3. Pemasangan perangkap antara lain ;

a.       Penggunaan lampu perangkap (light trap) untuk hama penggerek batang pada fase kupu-kupu. Lampu perangkap ini dipasang pada saat malam hari, peralatan yang diperlukan berupa : kain putih 2 x 1,5 m, lampu bohlam/neon, dan nampan penampung air. Kupu/ngengat yang diperoleh kemudian dimusnahkan.

b.      Penggunaan perangkap kertas warna (colour trapping) untuk hama lalat putih. Warna kertas yang digunakan bisa berwarna kuning atau lainnya yang cerah. Kertas terlebih dahulu diberi lem perekat atau racun tikus atau ter agar hama terperangkap pada kertas tersebut.

6.3 Penggunaan Pestisida

1. Biopestisida/Pesticida organik

Penggunaan pestisida organik dapat berupa bakterisida atau insektisida yang disesuaikan dengan jenis hama dan penyakit dan sesuai dengan dosis yang dianjurkan (sesuai Lampiran buku petunjuk pengendalian hama dan penyakit). Beberapa contoh tanaman yang bisa digunakan sebagai pesticida misalnya daun mimbo, mahoni, gadung, tembakau, daun sirsak dan sebagainya. Atau jika dalam keadaan yang sangat memaksa bisa menggunakan pestisida kimia dengan catatan penggunaannya harus mengacu pada prosedur kerja Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang sudah ada. Contoh-contoh pestisida organik dan cara pembuatannya sesuai Lampiran 3.

2.Pestisida kimia

Penggunaan pesticida kimia harus diminimalisir. Jika atas pertimbangan ekologi dan social terpaksa harus menggunakan pesticida kimia, maka pemilihan jenis pestisidanya harus yang tidak dilarang oleh FSC, WHO maupun peraturan perundangan yang lainnya serta menggunakan prosedur keamanan dan keselamatan sesuai dengan Lembar data keselamatan bahan masing-masing (lihat MSDS). Beberapa jenis pesticida kimia yang beredar di Indonesia terlampir (Lampiran 2). Penggunaan pestisida dalam pemberantasan hama dan penyakit dapat dilakukan dengan beberapa cara :

A.            Dioleskan/bacok oles; cara ini digunakan untuk jenis pesticida sistemik, contoh untuk pemberantasan hama penggerek batang atau penggerek pucuk. Aplikasinya dengan membuat lubang pada batang dengan paku kemudian cairan insektisida dimasukkan ke lubang atau melukai kulit batang sampai dengan bagian luar kayu gubal (jaringan sebelah dalam jaringan kambium), kemudian insektisida dioleskan dengan kuas atau disemprotkan ke bekas bacokan. Selanjutnya insektisida akan diangkut melalui jaringan gubal ke bagian batang atas.

B.             Ditabur pada tanah atau di campur dengan media tanam atau media semai. Cara ini digunakan untuk jenis pestisida berwujud granular (kode G dalam kemasan).

C.             Disemprot langsung pada target hama/penyakit. Cara ini digunakan untuk jenis pestisida racun kontak atau racun lambung yang memiliki kode SC, WP, EC.

D.            Fumigasi; cara ini digunakan untuk jenis-jenis pestisida fumigan. Contohnya untuk memberantas oleng-oleng dalam fase larva. Caranya dengan memasukan insektisida fumigan pada lubang gerek kemudian lubang ditutup malam. Cara penggunaan bergantung jenis hama yang menyerang dan kondisi tanaman yang diserang.

6.4 Musuh Alami

Penggunaan musuh alami dengan pengendalian biologis  yaitu penggunaan serangga atau bakteri dalam pengendalian hama secara innundative (pelepasan musuh alami secara berulang dengan jenis lokal) dan klasikal (pelepasan musuh alami secara tidak berulang dengan jenis eksotik). Musuh alami kita pilih musuh alami yang paling dekat dengan target hama, kita pilih yang terbatas/lebih sedikit sehingga tidak akan menyerang di luar target. Penggunaan musuh alami harus mengacu pada aturan penggunaan kontrol biologi.


DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Hama

http://fapertauir.blogspot.com/2011/01/dampak-kerugian-akibat-serangan-hama.html

http://wahanapertanian.blogspot.com/2011/01/ambang-ekonomi-hama-dan-penyakit.html

PENYAKIT CENDAWAN KARAT PADA TANAMAN KEDELAI


TUGAS PATOGEN 1

PENYAKIT CENDAWAN KARAT PADA TANAMAN KEDELAI




KELOMPOK 1

YENNI NURDEVI YANTI                        D1A011020

JULIARSON SARAGIH                 D1A011028

AMI CANDRA                                 D1A011030

DWI EKO LANGGENG                D1A0110

YAYUK SUNDARI                         D1A010

BENI                                                  D1A010


AGROEKOTEKNOLOGI

HAMA PENYAKIT TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2013

PENDAHULUAN


1.1.Latar belakang

Penyakit yang disebabkan oleh cendawan Phakopsora pachyrhizi berasal dari kelompok Basidiomycetes. Phakopsora pachyrizhy mempunyai uredium pada sisi bawah dan atas daun, coklat muda sampai coklat, bergaris tengah 100-200 µm, sering tersebar merata memenuhi permukaan daun. Parafisa pangkalnya bersatu, membentuk penutup yang mirip dengan kubah diatas uredium. Parafisa membengkok dan berbentuk gada atau mempunyai ujung membengkak, hialin atau berwarna jerami dengan ruang sel sempit. Ujungnya berukuran 7,5-15µm dengan panjang 20-47µm. Uredium bentuknya mirip dengan gunung api kecil yang dibentuk di bawah epidermis, jika dilihat dari atas berbentuk bulat atau jorong. Di pusat bagian uredium yang menonjol berbentuk lubang yang menjadi jalan keluarnya urediospora. Urediospora membulat pendek, bulat telur atau jorong, hialin sampai coklat kekuningan, dengan dinding tebal yang hialin dan berduri halus.

Akibat serangan cendawan ini proses fotosintesis terganggu karena daun tidak berfungsi sebagaimana fungsinya dapat menurunkan hasil produksi sebesar 20-80 %. Penurunan hasil bisa mencapai 100% bila varietas yang ditanam rentan terhadap karat daun dan dibudidayakan sewaktu musim hujan dalam keadaan cuaca yang lembab serta tanaman dalam kondisi tergenang.

Pada lahan tanaman kedelai sering dijumpai gejala serangan penyebab penyakit karat. Penyakit karat disebabkan oleh jamur Phakopsora pachyrhizi Syd. (Bromfield, 1976; Yang, 1977; Sudjono dkk., 1985). Penyakit karat merupakan penyakit yang sangat penting bagi tanaman kedelai (Sudjadi, 1979; Sudjono dkk., 1985; Semangun, 1993).

Beberapa genotip harapan sebagai hasil radiasi sinar γ telah diperoleh, tetapi genotip tersebut belum diketahui kemampuan produksinya dan ketahanannya terhadap penyakit karat.



1.2 Tujuan

Untuk mengetahui penyakit cendawan karat pada tanaman kedelai, penyebab penyakit cendawan karat dan cara mengatasi cendawan karat tersebut.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA



Klasifikasi :

Kingdom         : Fungi

Phylum            : Basidiomycota

Class                : Urediniomycetes

Subclass          : Incertae sedis

Order               : Uredinales

Family             : Phakopsoraceae

Genus              : Phakopsora

Species:           : P. pachyrhizi



Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit adalah suhu optimum untuk perkecambahan uredospora adalah 15-25 C. pada kedelai infeksi paling banyak terjadi pada suhu 20-25 C dengan embun selama 10-12 jam; pada suhu 15-17 C diperlukan embun selama 16-18 jam. Masa berembun terpendek untuk terjadinya infeksi pada suhu 20-25 C adalah 6 jam, sedang pada suhu 15-17 C adalah 8-10 jam. Infeksi tidak terjadi bila suhu lebih tinggi dari 27,5 C. Bakal uredium mulai tampak 5-7 hari setelah inokulasi, dan pembentukan spora terjadi 2-4 hari kemudian (Holliday, 1980). Penyakt karat yang lebih berat terjadi pada pertanaman kedelai musim hujan (Sudjadi, 1979). Selain itu, jenis-jenis kedelai memiliki tingkat kerentanan yang berbeda-beda. Ketahanan satu jenis kedelai terhadap karat juga bervariasi tergantung dari lokasi pengujian. Antara umur panjang dengan ketahanan dan antara umur pendek (genjah) dengan kerentanan terdapat korelasi positif. Ketahanan ternyata bersifat dominan dan ditentukan oleh dua gen mayor.

Penyakit karat disebabkan oleh cendawan P. pachyrhizi. Spora cendawan dibentuk dalam uredium dengan diameter 25−50μm sampai 5−14 μm. Uredospora berbentuk bulat telur, berwarna kuning keemasan sampai coklat muda dengan diameter 18−34 μm sampai 15−24 μm . Permukaan uredospore bergerigi. Uredospora akan berkembang menjadi teliospora yang dibentuk dalam telia. Telia berbentuk bulat panjang dan berisi 2−7 teliospora. Teliospora berwarna coklat tua, berukuran 15−26 μm sampai 6−12 μm. Stadium teliospora jarang ditemukan di lapangan dan tidak berperan sebagai inokulum awal.

Gejala awal penyakit karat pada kedelai ditandai dengan munculnya bercak klorotik kecil yang tidak beraturan pada permukaan daun. Pada umumnya gejala karat muncul pada permukaan bawah daun. Bercak tersebut kemudianberubah menjadi coklat atau coklat tua danmembentuk pustule. Pustulmerupakan kumpulan uredium. Pustulyang telah matang akan pecah dan mengeluarkantepung yang warnanya sepertikarat besi. Tepung tersebut merupakankantung-kantung spora yang disebut uredium dan berisi uredospora.



BIOLOGI PENYAKIT KARAT

pada daun pertama kedelai muda dapat terjadi dua macam bercak, yaitu yang berwarna coklat dan yang tidak. Gejala tampak pada daun, tangkai, dan kadang-kadang pada tangkai. Awalnya terjadi bercak-bercak kecil coklat kelabu atau bercak yang sedikit demi sedikit berubah menjadi coklat atau coklat tua. Bercak karat terlihat sebelum bisul-bisul (pustul) pecah. Bercak tampak bersudut-sudut karena dibatasi oleh tulang daun di dekat terjadinya infeksi (Semangun, 1991). Pada umumnya serangan terjadi pada permukaan bawah daun dan serangan awal biasanya terjadi pada daun-daun bawah yang kemudian berkembang ke daun yang lebih atas. Penyakit karat kedelai biasanya mulai menyerang pada saat tanaman berumur 3-4 minggu setelah tanam, penyakit karat menyebabkan daun kering dan rontok sebelum waktunya, stadium awal penyakit karat mungkin

SIKLUS PENYAKIT

Dua tipe spora telah diketahui pada P. pachyrhizi. Uredospora adalah tipe spora yang sering ditemukan dari musim ke musim. Uredospora sangat mudah terbawa angin dan percikan air hujan sehingga cepat tersebar dan siklus akan berkali-kali terjadi dari musim ke musim. Tipe spora yang kedua adalah teliospora. Di Indonesia, teliospora jarang ditemukan, tetapi di negara-negara yang beriklim subtropis, teliospora ditemukan pada tanaman terinfeksi pada akhir musim

tanam atau di rumah kaca. Pada kondisi laboratorium, teliospora dapat berkecambah membentuk basidiospora. Jika tidak dijumpai tanaman inang, siklus penyakit akan terhenti. Jika cuaca menguntungkan, uredospora akan berkecambah dan menginfeksi tanaman sehat. Menurut Sudjono (1979), sampai saat ini belum diketahui bahwa cendawan P. pachyrhizi dapat bertahan dalam biji.

Proses infeksi dimulai dengan perkecambahan uredospora membentuk tabung kecambah tunggal yang menembus permukaan daun 5–400 μm melalui bagian tengah sel epidermis, sampai terbentuk apresorium (hifa infeksi). Berbeda dengan cendawan karat yang lain, pada cendawan ini penetrasi apresorium ke sel-sel epidermis daun langsung melalui kutikula, jarang melalui stomata. Jika melalui stomata, umumnya apresorium masuk melalui sel penjaga, bukan melalui sel pembuka. Proses penetrasi pada cendawan ini bersifat unik; cendawan mampu melakukan penetrasi secara langsung. Proses penetrasi tersebut memudahkan P. pachyrhizi mendapatkan inang yang luas (Monte et al. 2003).

Uredium akan berkembang 5–8 hari setelah proses infeksi. Uredospora baru terbentuk 9 hari setelah infeksi, dan pembentukan dapat berlanjut sampai 3 minggu, sedangkan uredium berkembang sampai 4 minggu. Uredium generasi kedua akan tumbuh pada bagian pinggir dari tempat infeksi pertama, dan hal ini dapat berlangsung terus-menerus sampai 8 minggu (Monte et al. 2003).

Uredospora berkembang sangat cepat dan dapat dibentuk dalam jumlah yang sangat banyak. Jika satu bercak rata-rata memproduksi lebih dari 12.000 uredospora dalam 4−6 minggu maka dari 400 bercak akan terjadi serangan yang berat.

Suhu, kelembapan, dan cahaya sangat memengaruhi perkembangan penyakit karat. Keberhasilan proses infeksi bergantung pada kelembapan pada permukaan tanaman, dengan waktu optimum 6 jam dan maksimum 10–12 jam. Suhu optimum untuk infeksi berkisar antara 15–28°C (Monte et al. 2003). Menurut Sudjono (1979), penjemuran daun kedelai yang terinfeksi di bawah sinar matahari dengan intensitas cahaya 700 lux dapat menurunkan daya kecambah uredospore sehingga uredospora hanya mampu bertahan selama 6 jam. Selain itu, sinar ultra violet juga menurunkan daya kecambah uredospora.



TANAMAN INANG

Cendawan P. pachyrhizi merupakan parasit obligat. Jika di lapangan tidak terdapat tanaman kedelai, spora hidup pada tanaman inang lain. Spora hanya bertahan 2 jam pada tanaman bukan inang. Spora tidak dapat bertahan pada kondisi kering, jaringan mati atau tanah. Jika tidak ada tanaman kedelai, gulma yang termasuk ke dalam famili Leguminosae dapat menjadi tanaman inang alternatif. Dari 27 jenis tanaman Leguminosae yang diuji, tujuh di antaranya menunjukkan reaksi hipersensitif sehingga infeksi pada tanaman tersebut tidak menghasilkan spora. Sudjono (1979) menyatakan bahwa dari 17 jenis tanaman kacang-kacangan selain kedelai yang diinokulasi secara buatan, tiga di antaranya menunjukkan gejala yang bersporulasi, yaitu kacang asu, kacang kratok, dan kacang panjang. Oleh karena itu, keberadaan tanaman tersebut perlu diwaspadai.

Tanaman inang berperan sangat penting dalam terjadinya penyakit selama setahun, dari satu musim tanam ke musim tanam berikutnya, jika tanaman kedelai tidak ada di lapangan. Beberapa jenis gulma dapat menjadi tanaman inang P. pachyrhizi. Di Amerika Serikat, tanaman kudzu (sejenis gulma) merupakan tanaman inang cendawan tersebut pada musim dingin sehingga siklus penyakit akan berlangsung sepanjang tahun. Selanjutnya dilaporkan bahwa 31 spesies dari 17 genus tanaman kacang-kacangan dapat terinfeksi P. pachyrhizi, di antaranya kacang merah (Phaseolus vulgaris), kacang hijau (Phaseolus radiatus), kacang krotok (Phaseolus lunatus), kacang tunggak (Vigna linguata), dan kacang lupin (Lupinus hirsitus) (Monte et al. 2003).



PENGENDALIAN



Pengendalian penyakit karat dianjurkan dilakukan dengan memadukan beberapa komponen pengendalian yang ramah lingkungan untuk mendukung pertanian berkelanjutan. Komponen pengendalian penyakit karat meliputi penanaman varietas tahan serta penggunaan bahan nabati dan hayati.



v  VARIETAS TAHAN



Sebelum melakukan tindakan pengendalian, perlu dilakukan pemantauan. Penyakit karat termasuk penyakit yang cepat perkembangannya (dengan periode laten 9 hari). Spora dapat terbawa oleh angin, air atau serangga sehingga penyakit dapat menyebar ke segala arah, yang didukung dengan cuaca yang sesuai sepanjang tahun. Pemantauan penyakit karat dimulai pada saat tanaman kedelai berumur 3 minggu. Pengendalian penyakit dilakukan apabila intensitas serangan telah mencapai 5% untuk varietas unggul tahan karat. Untuk varietas rentan, keberadaan satu bercak saja dalam areal pertanaman kedelai sudah harus dilakukan upaya pengendalian.

Menanam varietas kedelai yang tahan penyakit karat merupakan cara pengendalian yang murah, mudah dilaksanakan, dan tidak mencemari lingkungan. Menanam varietas tahan dimaksudkan untuk mengurangi jumlah inokulum awal (Zadoks dan Schein 1979). Ketahanan suatu varietas terhadap suatu penyakit umumnya tidak berlangsung selamanya. Jika muncul ras baru yang lebih virulen, ketahanan varietas tersebut akan patah. Oleh karena itu, adanya varietas-varietas baru kedelai yang tahan terhadap penyakit karat sangat dibutuhkan dalam upaya mengendalikan penyakit tersebut.

Balai Penelitian Tanaman Kacang- Kacangan dan Umbi-Umbian (Balitkabi) telah melepas beberapa varietas unggul kedelai dengan ketahanan terhadap penyakit karat yang bervariasi. Sejak tahun 1999, telah dilepas empat varietas unggul kedelai dengan kategori agak tahan, satu varietas toleran, sedangkan dua varietas lainnya tidak diketahui ketahanannya terhadap penyakit karat. Hasil uji ketahanan yang dilakukan di Bogor menunjukkan bahwa dari 50 galur dan varietas kedelai yang diuji, tidak satupun yang menunjukkan reaksi tahan, 4% agak tahan, 60% agak rentan, dan 36% rentan (Santosa 2003).

Varietas yang toleran dapat terinfeksi patogen karat, tetapi masih dapat menghasilkan biji. Varietas dengan kategori agak tahan memiliki ketahanan terhadap penyakit karat yang berada antara tahan dan agak rentan. Apabila menanam varietas yang agak tahan, perlu dipadukan dengan cara pengendalian lain, misalnya dengan fungisida nabati.



v  FUNGISIDA NABATI



Pengendalian dengan fungisida nabati mempunyai keunggulan karena tidak mencemari lingkungan, bahannya tersedia di lingkungan sekitar, dan lebih murah daripada fungisida sintetis (Kardinan 1998). Menurut Zadoks dan Schein (1979), jumlah inokulum awal berperan penting dalam memicu terjadinya ledakan penyakit. Oleh karena itu, pengendalian dengan fungisida nabati dimaksudkan untuk mengurangi jumlah inokulum awal.

Minyak cengkih mengandung bahan aktif eugenol (Guenther 1990) yang berkhasiat menghambat perkembangan beberapa mikroorganisme penyebab penyakit, seperti Fusarium oxysporum pada vanili, serta Phytophthora capsici, Rhizoctonia solani, dan Sclerotium rolfsii pada lada (Tombe et al. 1992). Balitkabi telah melakukan penelitian untuk mengetahui efektivitas minyak cengkih dalam melindungi tanaman kedelai dari infeksi penyakit karat. Intensitas serangan karat pada tanaman tanpa perlakuan minyak cengkih cukup tinggi; pada pengamatan umur 65 hari setelah tanam (hst) di rumah kaca dan pada umur 78 hst di lapangan, intensitas serangan karat berturut-turut sebesar 73% dan 34%. Intensitas serangan karat dengan perlakuan minyak cengkih bervariasi dari 5% hingga 21,60%.

Interval waktu penyemprotan minyak cengkih terendah, baik untuk pertanaman di rumah kaca maupun di lapangan, adalah 5 hari. Hal ini mengisyaratkan bahwa penyemprotan minyak cengkih akan efektif apabila dilakukan beberapa kali dengan interval waktu minimum 5 hari sekali.

Daun tanaman kedelai yang diberi perlakuan minyak cengkih secara visual tampak sehat dan tidak terdapat atau sedikit gejala penyakit karat, sedangkan daun tanpa perlakuan minyak cengkih terdapat gejala penyakit karat. Dinding sel spora yang diberi perlakuan minyak cengkih mengalami lisis sehingga isi sel tersebar ke luar sel. Spora tanpa minyak cengkih memiliki dinding sel yang tetap utuh dan dapat membentuk tabung kecambah. Hal ini menunjukkan bahwa spora masih hidup.



v  AGENS HAYATI

Pengendalian dengan agens hayati dimaksudkan mengaplikasikan mikroorganisme antagonis dari penyebab penyakit. Cara pengendalian ini dapat meminimalkan jumlah inokulum awal dan mengurangi perkembangan penyakit. Keunggulannya yaitu selain ramah lingkungan efek residunya dapat bertahan lama sampai beberapa musim tanam. Mikroorganisme antagonis yang sering digunakan dalam pengendalian penyakit karat ini yaitu : bakteri bacillus dan cendawan verticillium. Menurut baker dan cook (1974), mekanisme pengendalian dengan antagonis ini dikategorikan menjadi tiga, yakni : 1). Antibiosis, yaitu mengeluarkan senyawa kimia yang dapat mematikan penyebab penyakit, 2). Hiperparasit, yaitu antagonis memarasit penyebab penyakit, 3). Kompetisi, yaitu persaingan makanan atau tempat hidup antara antagonis dan penyebab penyakit

.





BAB III

KESIMPULAN



Penyakit karat merupakan penyakit penting pada kedelai, penyakit tersebut dapat dikendalikan dengan memadukan berbagai tekhnik pengendalian misalnya menanam varietas tahan, dengan menggunakan fungisida nabati, dan juga pemanfaatan mikroorganisme antagonis. Serta factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit karat adalah suhu,kelembaban, cahaya matahari dan tanaman inang.

DAFTAR PUSTAKA

http://indri2303.wordpress.com/2011/02/07/hama-dan-penyakit-pada-tanaman-kedelai

http://rizkihaerunisa1009.wordpress.com/2010/06/20/karat-daun-pada-kedelai

Sudjono, M.S., M.M. Amir, dan M. Roechan. 1985. Penyakit karat dan penanggulangannya. Dalam Somaatmadja, S., M. Ismunadji, Sumarno, M. Syam, S.O. Manurung dan Yuswadi (Ed). Kedelai. Pusat Penelitian Tanaman Pangan, Bogor. hlm. 331−356.



Sumartini. 2009. Retensi minyak cengkih untuk pengendalian penyakit karat pada kedelai. Prosiding Seminar dan Kongres Perhimpunan Fitopatologi Indonesia, Di Makassar. Inpress.



Tombe, M., K. Kobayashi, Ma’mun, Triantoro, dan Sukamto. 1992. Eugenol dan daun cengkih untuk pengendalian penyakit tanaman industri. Makalah disampaikan pada Seminar Review Hasil Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. 8 hlm.

KESAMAAN INDONESIA DENGAN NEGARA LAIN

   1.   Bendera

bendera indonesia
Bendera Negara Republik Indonesia, yang secara singkat disebut Bendera Negara, adalah Sang Saka Merah Putih, Sang Merah Putih, Merah Putih, atau kadang disebut Sang Dwiwarna (dua warna). Bendera Negara Sang Merah Putih berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran lebar 2/3 (dua-pertiga) dari panjang serta bagian atas berwarna merah dan bagian bawah berwarna putih yang kedua bagiannya berukuran sama.

bendera monako

Bendera nasional Monaco terdiri atas dua strip horizontal yang sama, merah (atas) dan putih (bawah). Warna Merah dan Putih sudah menjadi corak khas The House of Grimaldi paling tidak semenjak 1339, namun dengan desain yang berubah-ubah.. Desain dua warna diadopsi pada tanggal 4 April 1881, di bawah pimpinan Pangeran Charles III.Bendera Monako yang asli (berbentuk sama dengan Bendera negara Monako tapi dengan gambar simbol negara versi sebelumnya di tengahnya) sudah digunakan sejak awal kerajaan ini berdiri, kecuali saat Monako di-aneksasi Perancis pada periode 1793-1814. Bentuknya kini yang lebih sederhana mulai digunakan sejak 4 April 1881. 


meski sama tapi ada juga perbedaanya, nih bedanya :
Perbandingan
Ukuran:
Indonesia=2:3
Monaco=4:5
Resmi Digunakan
Indonesia=17 Agustus 1945
Monaco=4 April 1881
Latar Belakangan Sejarah
Indonesia=Warna panji-panji Kerajaan Majapahit
Monaco=Warna-warna simbol House of Grimaldi
Selain Indonesia dan Monaco, ada banyak bendera negara/kota/kerajaan yang juga serupa.

   2.   Tanggal kemerdekaan

indonesia
17 Agustus 


Gabon (République Gabonaise)
Gabon adalah sebuah negara di Afrika bagian barat. Gabon merdeka pada tanggal 17 Agustus 1960 dari Perancis. Yang beda hanya tahunnya saja, kita 15 tahun lebih dulu merdeka dari Gabon.


   3.   Bahasa jawa
Ternyata selain diindonesia bahasa jawa juga dipakai juga loh dinegara lain.

Republik Suriname
(Surinam)dulu bernama Guyana Belanda atau Guiana Belanda adalah sebuah negara di Amerika Selatan dan merupakan bekas jajahan Belanda.
Negara ini berbatasan dengan Guyana Perancis di timur dan Guyana di barat. Di selatan berbatasan dengan Brasil dan di utara dengan Samudra Atlantik.Di Suriname tinggal sekitar 75.000 orang Jawa dan dibawa ke sana dari Hindia-Belanda antara tahun 1890-1939. Suriname merupakan salah satu anggota Organisasi Konferensi Islam.

Singapura
Sejumlah orang Jawa didatangkan ke Singapura sejak 1825 [Johari, 1965]. Mereka berasal dari Jawa Tengah, dan mereka dipekerjakan sebagai buruh di perkebunan karet, jalur kereta api dan konstruksi jalan raya. Kampong Jawa, di tepi sungai Rochor, adalah tempat pemukiman pertama orang Jawa di Singapura. Selain Kampong Jawa, Kallang Airport Estate dikenal sebagai tempat pemukiman orang Jawa juga. Di Kallang, mereka hidup berdampingan dengan orang Melayu dan Cina.


Malaysia
Umumnya, mereka sudah berwarga negara Malaysia. Leluhur mereka datang sekitar tahun 1900 karena tekanan ekonomi. Masyarakat Jawa di Malaysia saat ini termasuk generasi ketiga dan keempat. Walaupun masih menggunakan sebagian adat dan kebudayaan Jawa, mereka sudah dianggap Melayu pribumi yang sah sesuai undang-undang Malaysia.

Yang terbanyak tinggal di Negeri Selangor, terutama di kawasan Tanjung Karang, Sabak Bernam, Kuala Selangor, Kelang, Banting, dan Sepang. Mereka masih mengekalkan beberapa unsur Jawa meski tidak total. Di Johor juga banyak, tapi yang muda-muda sudah lupa warisan leluhurnya.

Bahkan sebagian ada yang merasa malu mengakui berketurunan Jawa. Mereka sudah tidak boleh (bisa, Red.) lagi bertutur bahasa Jawa secara baik dengan unggah-ungguh dan tata krama. Ada yang mengekalkan identitas dirinya dengan mewujudkan Persatuan Anak-anak Jawa. Kegiatan keseniannya kuda kepang dan reog, walaupun tidak sehalus di Jawa.

Belanda
Saat Belanda menjajah Indonesia belanda mengirim orang jawa sebagai budak ke Belanda. Yang unik dalam kasus bahasa Jawa ini adalah minat orang asing terhadap bahasa atau sastra Jawa. Dan, Belanda sebagai negeri bekas penjajah Jawa ternyata menjadi gudang dari orang atau pakar yang punya minat khusus terhadap keberadaan bahasa Jawa.

Universiteit Leiden, universitas tertua di Belanda yang didirikan 1575 merupakan salah satu gudangnya. Di universitas yang didirikan Pangeran Willem van Oranje, tempat dari sekitar 17 ribu mahasiswa menimba ilmu, kita bisa melihat naskah-naskah kuno berhuruf Jawa atau sastra Jawa kontemporer yang masih terawat


Kaledonia Baru 
(
bahasa Perancis: Nouvelle-Calédonie) adalah sebuah negeri seberang laut milik Perancis terletak di Samudra Pasifik bagian selatan. Juga dinamai Kanaki yang dari nama penduduk asli kepulauan itu. Negara kepulauan ini telah dikuasai Perancis selain Polinesia Perancis. Status ini dikenakan sampai 1998. Namanya berasal dari bahasa Latin Skotlandia. Ibu kotanya ialah Noumea.

Daerah ini dihuni oleh sebagian suku Jawa. Dahulu orang Jawa di Kaledonia Baru menjadi kuli kontrak atau mencari kehidupan lebih baik di negeri asing. Perpindahan orang Jawa di Kaledonia juga sama dengan orang Jawa Suriname, namun kepindahan orang Jawa di Pasifik telah terhenti sejak 1949. Jumlah penduduk Kaledonia Baru tercatat tanggal 1 September 2006, yaitu: 237.765 jiwa. Orang Jawa di Kaledonia Baru tetap menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari, namun kini anak-anak mudanya sudah tak bisa berbahasa Jawa, hanya bisa berbahasa Perancis saja.

   4.   Pulau yang sama
indonesia dibeberapa pulau harus saling berbagi dengan negara tetangga, mau tau nih liat deh

  • Pulau kalimantan

dipulau kalimantan indonesia saling berbagi pulau dengan Malaysia dan Brunei Darusalam

Malaysia
adapun wilayah Malaysia yang berada di Kalimantan adalah Sabah, Sarawa

Brunei Darusalam
brunei adalah negara yang seluruh wilayahnya dipulau kalimantan. brunei berbatasan dengan Malaysia dan Laut Cina Selatan

  • Kepulauan Nusa Tenggara

Peta Timor Leste
dipulau ini indonesia berbatasan dengan Republik Demokratik Timor Leste

Republik Demokratik Timor Leste

Republik Demokratik Timor Leste (juga disebut Timor Lorosa'e), yang sebelum merdeka bernama Timor Timur, adalah sebuah negara kecil di sebelah utara Australia dan bagian timur pulau Timor. Selain itu wilayah negara ini juga meliputi pulau Kambing atau Atauro, Jaco, dan enklave Oecussi-Ambeno di Timor Barat.
Timor Leste dulu adalah salah satu provinsi di Indonesia, Timor Leste secara resmi merdeka pada tanggal 20 Mei 2002. Sebelumnya bernama Provinsi Timor Timur, ketik.a menjadi anggota PBB, mereka memutuskan untuk memakai nama Portugis "Timor Leste" sebagai nama resmi negara mereka

  • Pulau Papua atau Guinea Baru (Bahasa Inggris: New Guinea)

New guinea named.PNG
pulau pa[ua adalah pulau yang indah, bisa dibilang pulau ini sebagai penjaga sisi timur NKRi, dipulau yang indah ini Indonesia juga berbagi dengan Papua New Guinea

Papua New Guinea
Papua Nugini atau Papua Guinea Baru adalah sebuah negara yang terletak di bagian timur Pulau Papua dan berbatasan darat dengan Provinsi Papua (Indonesia) di sebelah barat. Benua Australia di sebelah selatan dan negara-negara Oseania berbatasan di sebelah selatan, timur, dan utara. Ibu kotanya, dan salah satu kota terbesarnya, adalah Port Moresby. Papua Nugini adalah salah satu negara yang paling bhinneka di Bumi, dengan lebih dari 850 bahasa lokal asli dan sekurang-kurangnya sama banyaknya dengan komunitas-komunitas kecil yang dimiliki, dengan populasi yang tidak lebih dari 6 juta jiwa. Papua Nugini juga salah satu negara yang paling luas wilayah perkampungannya, dengan hanya 18% penduduknya menetap di pusat-pusat perkotaan.Negara ini adalah salah satu negara yang paling sedikit dijelajahi, secara budaya maupun geografis, dan banyak jenis tumbuhan dan binatang yang belum ditemukan diduga ada di pedalaman Papua Nugini.






KISAH NABI IDRIS AS



UKURAN TAKARAN TIMBANGAN

Panjang


km = kilometer
hm = hektometer
dam = dekameter
m = meter
dm = desimeter
cm = centimeter
mm = milimeter

Berat


kg = kilogram
hg = hektogram
dag = dekagram
g = gram
dg = desigram
cg = centigram
mg = miligram

Luas

ka = kiloare
ha = hektoare
daa = dekaare
a = are
da = desiare
ca = centiare
ma = miliare

Isi


kl = kiloliter
hl = hektoliter
dal = dekaliter
l = liter
dl = desiliter
cl = centiliter
ml = mililiter

KISAH NABI ADAM AS

















Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review